Serunya Tergabung Sosialisasi Warga Dalam Meningkatkan Keamanan

9 Feb 2016

Secara pribadi, saya bukan lagi dianggap sebagai ‘pendatang’ dalam wilayah komplek tempat tinggal. Berbekal kartu identitas berupa KTP, secara hukum sudah sah sebagai penduduk DKI Jakarta sejak tahun 2011. 

Penyesuaian dan bergaul dengan masyarakat tempat tinggal, memang harus pandai membawa diri. Selain perbedaan penggunaan bahasa, juga beda kebiasaan dan perilaku dari tempat asal yaitu Surabaya. 

Memiliki usia paling muda daripada warga tempat tinggal, tak heran jika sering bersosialisasi dengan mereka. Mulai dari kepengurusan organisasi, hingga sering menghadiri kegiatan-kegiatan yang digelar warga atas arahan ketua RT. 

Kurang lebih selama 5 tahun ini, bisa dibilang keadaan sangat aman terkendali. Jikalau memang ada kejadian yang cukup berarti, hanya sebatas perbedaan pendapat. Namun, biasanya selalu berujung ajakan minum kopi (penyelesaian damai) bersama di warung depan komplek. 

Awal tahun 2016 ini, sebuah kejadian yang bisa dianggap mengganggu keamanan tempat tinggal. Salah satu bapak penjaga keamanan (satpam atau security) komplek, dikeroyok oleh beberapa oknum dari warga lain. 

Tentu saja kejadian tersebut sempat membuat ‘kaget’ bagi semua warga. Hebatnya lagi, semua warga menanggapi kejadian tersebut dengan kepala dingin. Walau sebagian yang lain sempat tersulut emosinya, namun semua kasusnya diserahkan kepada pihak berwajib (kepolisian) untuk segera diusut. 

Akibat dari kejadian tersebut, ketua RT langsung berkoordinasi dengan beberapa warga untuk diajak kerjasama. Menginformasikan bahwa akan membentuk tim relawan keamanan lapis dua sebanyak 5 orang, tanpa dibayar. Sebagai kompensasi daripada tim relawan, akan diberikan fasilitas berupa alat komunikasi (baca HT) untuk kemudahan dalam koordinasi. 

Gayung bersambut! Saya langsung mengajukan diri sebagai tim relawan tanpa ragu. Berharap penyakit imsomnia yang saya derita ini, bisa memberikan manfaat bagi warga tempat tinggal. Alhamdulillah, saya diterima sebagai salah satu anggota tim relawan. 

Beberapa hari kemudian, saya mendapat kiriman berupa alat komunikasi Handy Talkie. Produk keluaran dari negeri tirai bambu, memiliki daya pancar dan menerima sebesar 8 watt. 

Secara teknis, alat ini bisa berkomunikasi pada frekuensi VHF (136-174 MHz) dan UHF (400-520) atau biasa disebut dengan radio panggil dual band. Memiliki kapasitas batrey sebesar 2700 mAh, bertahan selama 4 hari dalam posisi stand by dan 10 jam jika digunakan terus-menerus.

Pancaran kekuatan mencapai 8 watt pada frekuensi VHF dan 5 watt di frekuensi UHF. Dalam artian, HT tersebut bisa berkomunikasi dalam radius 8 KM (VHF) dengan catatan tanpa ada halangan apa pun (tembok, gedung, pohon dan sebagainya).

Memiliki penyimpanan kanal (memory chanel) hingga 128, juga ada fitur radio FM. Harganya yang sangat terjangkau, tak heran jika sering digunakan untuk komunikasi pada kegiatan event organizer, pergudangan, dan lainnya dalam lingkup keamanan. 

Pembungkus bodi yang terbuat plastik, terkesan ‘ringkih’ jika dibandingkan dengan HT buatan Jepang. Namun tak mengurangi performanya karena suaranya masih terdengar sangat jernih saat mencobanya dalam radius 5 KM ditengah kota Jakarta Selatan (banyak gedung bertingkat). 

Secara pribadi, saya merasa sangat puas karena hobi lama ‘brik-brikan’ tersalurkan kembali. Jadinya bisa memantau keamanan sambil ‘nguping’ obrolan di ‘udara’ yang sering dilakukan oleh petugas tol dan kepolisian. Tapi, ada juga yang pacaran lewat HT lho… Hehehe..

Alhasil dari hobi tersebut, saya berhasil mengumpulkan banyak frekuensi yang bisa memberikan informasi bermanfaat. Bahkan mulai mempelajari kode-kode bahasa komunikasi yang sering digunakan oleh mereka. 

Untuk etikanya, saya tidak berhak untuk masuk dalam obrolan tersebut. Selain belum punya izin siaran, saya belum terdaftar sebagai anggota daripada ORARI/ RAPI/ POKDAR.

Hal positif yang saya dapatkan daripada menjadi tim relawan, bisa saling akrab dengan warga dan memudahkan bersosialisasi satu sama lain. Tentu saja, pengalaman ini sangat seru untuk saya tuliskan di blog. Sebab dari obrolan komunikasi via HT, saya jadi lebih mengenal tetangga kanan dan kiri.

Ternyata tetangga saya yang ‘itu’ begini.. dan tetangga saya yang ‘ini’ ternyata begitu, hihihi…


TAGS keamanan warga ht berlin fm-6vr


-