Bangga Berkomunitas dan Bangga Berorganisasi Bersama RAPI

28 Feb 2016

Menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, bagi warga negara Indonesia yang memiliki radio komunikasi wajib didaftarkan. Selain terkait dengan izin penggunaan frekuensi yang sudah diatur oleh negara, banyak aspek menguntungkan yang didapatkan saat berkomunikasi di ‘udara’.

Sayangnya, tak semua orang yang memaklumi hal tersebut. Selain informasi (promosi) dari pemerintah kepada masyarakat yang (menurut saya masih) kurang gencar, harganya juga lumayan mahal bagi kalangan mahasiswa.

Dari sisi pedagang radio komunikasi, masih banyak yang memprioritaskan faktor keuntungan penjualan. Namun tak sedikit diantaranya, juga berbagi informasi tentang tata cara perizinan penggunaan perangkat tersebut.

RAPI adalah kependekan dari Radio Komunikasi Antar Penduduk, organisasi kemasyarakatan dibawah naungan Kementrian Komunikasi dan Informatika. Keberadaannya diakui dan dilindungi oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika. 

Keberadaan mereka yang juga membantu program sosial pemerintah, juga sebagai wadah legalitas warga dalam hal menggunakan frekuensi radio. Cakupan area yang terkoordinir di setiap kecamatan, tak heran banyak warga yang bergabung dan terlibat di dalamnya.

Sabtu malam (27/2/2016), saya janji akan datang pada kegiatan kopdaran dengan salah satu pengurus RAPI kecamatan Duren Sawit. Lokasinya yang tidak jauh dari tempat tinggal, kami sepakat bertemu di kantor sekretariatnya.

Sesampai di lokasi yang dekat dengan area Banjir Kanal Timur Jakarta, saya bertemu dengan pria yang cukup berumur. Dari penampilannya yang menggunakan atribut layaknya biker, terlihat ciri khas gaya anak muda.

Segera memperkenalkan diri, pria yang asyik diajak ngobrol ini lebih mengutamakan nama alias karena faktor kebangaannya menjadi anggota RAPI. Seraya mengulurkan tangan, dia menyebutkan tanda panggilnya (call sign) JZ09UJE dan terbiasa dipanggil UJE.

Kami pun mengobrol layaknya keluarga jauh yang baru bertemu. Kesempatan bagi saya untuk menggali lebih banyak informasi darinya. Mulai dari faktor apa yang membuatnya bangga pada RAPI selama 16 tahun, hingga kegiatan organisasi tersebut dalam 3 tahun terakhir.

Melalui postingan ini, saya mencoba menjabarkan dari obrolan tersebut :

  • UJE sangat bangga tergabung di organisasi RAPI karena sebagai warga Jakarta asli yang ingin berperan serta dalam pembangunan di ibukota ini.
  • Ada perasaan bangga saat mengenakan seragam RAPI warna coklat, karena terlihat seperti aparat kepolisian. Bedanya cuma pada tanda, doi punya tanda panggil sedangkan polisi punya tanda pangkat.
  • Melalui organisasi tersebut, jiwa sosialnya bisa langsung tersalurkan karena bisa terlibat (terjun) langsung untuk membantu masyarakat.
  • Mudah bersosialisasi dengan siapa saja, baik kepada masyarakat juga aparat yang berwenang dalam lingkup area Jakarta dan sekitarnya.
  • Suka berbagi informasi melalui radio komunikasi bagi yang membutuhkan, khususnya tentang kemacetan lalu lintas di areanya.
  • Mudah menjalin keakraban dengan sesama penggemar (komunitas) radio komunikasi, tak heran jika doi sering diundang di berbagai kegiatan pemerintahan.
  • Hanya menggunakan radio komunikasi (HT), bisa mengetahui segala informasi yang ada di sekitar. Tak jauh beda dengan internet dimana saat ini dianggap sebagai pusat informasi.
  • Selalu bangga dan siap tergabung selamanya di organisasi RAPI karena bebas dijalankan setiap saat walau tak mendapatkan pamrih dari siapa pun juga.

Secara pribadi, saya sangat menyukai semangat loyalitas dan kebanggaannya terhadap organisasi. Tak terasa, kami mengobrol hingga dinihari (sekitar jam 1 pagi).

Sebelum menyudahi obrolan, saya menanyakan perihal persyaratan menjadi anggota RAPI. Alhamdulillah, doi yang sebagai pengurus langsung menyiapkan segala dokumen formulir yang dibutuhkan.

Dirasa sudah cukup segala persyaratan, secara tidak langsung saya sudah terdaftar menjadi anggota. Juga dinyatakan sudah memiliki izin siar radio komunikasi di ibukota dan bisa digunakan dengan baik. Berkat pak UJE juga, saya diperkenalkan kepada anggota yang lain melalui radio komunikasi dengan nama panggilan ‘@gajahpesing‘.

Kami pun berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang, saya berteriak dalam hati, ‘Akhirnya saya punya izin siar di Ibukota! Alhamdulillah!


TAGS rapi radio komunikasi izin siar siaran opini callsign


Postingan Terkait

-