Jangan Mengeluh! Ayo, Coba Dulu!

31 Mar 2016

Versi asli dari judul postingan ini adalah mengutip dari perkataan emak saya dalam bahasa Jawa, yaitu ‘Gak usah sambat! Dicoba Disek!

Dulu, saat masih berumur sekolah dasar (SD), hampir tak pernah mendapatkan pekerjaan rumah (PR) dari guru. Jikalau ada, pasti hanya yang berkaitan dengan mata pelajaran prakarya dan seni rupa (menggambar). 

Tak heran jika waktu kecil, lebih banyak waktu bermainnya. Mulai dari sepulang sekolah, hingga adzan maghrib berkumandang dari mushola kampung tempat tinggal. 

Saat memasuki sekolah menengah pertama (SMP), baru mendapati PR dari beberapa mata pelajaran. Parahnya lagi, semua PR harus dikumpulkan keesokan harinya saat jam pertama pelajaran dimulai. 

Pada masa transisi tersebut, sempat terlintas dalam pemikiran bahwa ingin kembali ke sekolah dasar lagi. Banyak waktu untuk bersenang-senang dengan teman-teman sepermainan di kampung halaman. 

Keinginan memang tidak selamanya sesuai dengan kenyataan. Ditambah lagi adanya kebanggaan tersendiri saat masuk di SMP favorit kota tempat tinggal. Jadi, semua proses harus dijalani dengan baik. 

Saat itu, saya paling benci dengan yang namanya PR. Selain harus mikir lagi di rumah, juga memotong jam bermain dengan teman-teman. 

Walau tidak suka, semua PR dikerjakan sendiri. Hampir tak pernah meminta bantuan kepada orang tua, apalagi kakak-kakak saya. 

Sebab anggapan saya saat itu, laki-laki harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Jika sudah mentok, baru minta bantuan kepada mereka. 

Pernah kejadian pada saat itu, mendapatkan PR yang sangat sulit untuk dikerjakan. Kebetulan di rumah hanya ada emak, tapi beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya (berdagang). 

Bagai makan buah simalakama! Tidak minta bantuan takut mendapat nilai kurang dari rata-rata. Minta bantuan tapi takut malah mengganggu pekerjaan beliau. 

Keringat bercucuran dan otak rasanya sangat panas saat itu. PR dengan mata pelajaran FISIKA, sangat menyita perhatian dan waktu saya saat itu. 

Hingga akhirnya merasa sudah mentok dan putus asa, buku PR tersebut saya lempar ke pintu. Ingin rasanya berteriak dan memaki dengan kencang kepada PR itu. 

Melangkahkan kaki menuju toilet, mengambil gayung berisi air dan mengguyurkan ke kepala sendiri. Berharap dengan sejuknya air sumur ini, bisa mendinginkan otak saya dengan segera. 

Tidak tahu awalnya, tiba-tiba emak mengambil buku yang saya lempar tadi. Melihat-lihat dan membacanya sebentar, lalu menaruhnya lagi ke atas meja belajar. 

Saya hanya melihat dari kejauhan dan ingin bilang kepada beliau bahwa saya butuh bantuan. Namun, saya sadar akan kemampuan pendidikan emak yang hanya tamatan Sekolah Rakyat (SR). Tak mungkin saya berharap lebih kepada beliau.

Segera menghampirinya sambil berkata kepadanya, 

Saya (sy) : PR’e angel! Gak iso nggarap aku. (PR-nya susah! Saya tidak bisa menyelesaikannya)

Emak (e) : (tegas dan penuh perhatian) Gak usah sambat! Dicoba disek! Nek aku isok, gak kesuen tak garapno! (Jangan mengeluh! Ayo, coba dulu! Seandainya bisa mengerjakan, sudah saya kerjakan sendiri gak pakai lama!)

Saya mengambil nafas panjang dan tak berani membantah beliau.

E : Coba diwoco bab seng onok hubungane karo PR. Mungkin neng kono onok jawabane. (Coba baca bab yang berhubungan dengan PR tersebut. Siapa tahu disitu ada jawabannya).

Saya pun mengiyakan dan tidak berani menolak anjurannya. Perlahan membaca bukunya lagi dan anehnya, saya mendapatkan semua jawabannya ada di buku tersebut. 

Tanpa membuang waktu karena ingin segera bermain, saya kerjakan semua pertanyaan yang ada di buku PR. Alhamdulillah! Dalam waktu 10 menit, 50 soal PR terjawab semua.

Segera berlari menemui emak, langsung bertanya kepada beliau ‘Mak, aku oleh dulinan? PR-ku wes mari kabeh!’ (Mak, saya boleh bermain? PR-ku sudah dikerjakan semua)

Emak hanya mengangguk. Saya pun segera berlari menuju lapangan sepakbola dan berteriak, ‘Suwun mak!’


TAGS personal umum


Postingan Terkait

-