Menjadi Turis di Kampung Halaman Surabaya

12 Apr 2016

Sabtu dan Minggu (9-10 April 2016) kemarin, saya mendapat tugas untuk pelaksanaan event Audisi Sunsilk Hijab Hunt 2016 di kota Surabaya. Program nasional mencari muslimah berbakat dari 10 kota di Indonesia yang digelar oleh detikcom dan Trans 7. 

Demi pelaksanaan yang optimal, saya yang tergabung dalam tim detikcom berangkat hari Jumat (8 April 2016) untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Intinya meminimalisir agar acara berjalan dengan baik dan lancar. 

Sampai di Surabaya yang kebetulan pas jam makan siang, kami pun bergegas mencari tempat makan di daerah sekitar bandara. Mengingat tadi pagi juga belum sarapan, tak heran jika penghuni istana perut sudah berdendang ria menyanyikan lagu yang berjudul ‘Lapar’. 

Sop Buntut Pak Choirul Semambung menjadi tujuan pertama kuliner kami. Lokasinya yang tak jauh dari bandara Juanda, gerimis yang mulai berjatuhan tak kami hiraukan. Kami sudah terhipnotis dengan aroma masakan kuliner tersebut. 

Saat mencoba pertama kali, citarasanya lebih dominan ke kuliner Soto Madura. Bedanya terletak pada isi yang biasanya berupa daging, soto ini menyajikan semangkok penuh potongan buntut sapi. 

Rasanya yang sangat lezat, rasanya tak rela jika mencicipinya hanya sekali. Saking enaknya, kuah soto yang ada langsung saya minum hingga habis tanpa sisa (kecuali tulang buntut). 

Campuran bumbunya yang asin, guruh dan menyegarkan itu, ingin rasanya menambah lagi. Namun waktunya yang mepet, terpaksa kami segera menuju lokasi penginapan untuk beristirahat. 

Sesampai di hotel, saya hanya ganti baju lalu menaruh beberapa barang. Rombongan pun terpisah menjadi dua, ada yang mencari oleh-oleh karena mumpung ada waktu luang. Sedangkan saya bersama rekan tim detikTV mengambil beberapa stok gambar yang bertemakan ‘Landamark’ kota Surabaya di beberapa tempat. 

Saat merekam video dan memotret beberapa lokasi di Surabaya, saya merasa menjadi turis di kampung halaman sendiri. Semuanya sudah berubah menjadi lebih baik dan bagus daripada sebelumnya. Sebab terakhir kali mudik, belum ada setahun. 

Mulai dari lokasi Tugu Pahlawan, monumen Bambu Runcing dan ikon kota Surabaya yang berada di Kebun Binatang Surabaya. Waktunya yang masih sore, kami terbantu cahaya alami dan mendapatkan banyak gambar atau video yang cukup bagus. Segera kami kembali ke hotel dan beristirahat untuk persiapan audisi hari pertama. 

Walau singkat, setidaknya video dibawah ini menjadi pengingat bahwa saya masih mencintai kota Surabaya. 

Usai melaksanakan hari pertama audisi, kami bergegas menuju Ice Cream Zangrandi. Lokasinya yang tidak jauh dari hotel, tempat ini adalah legenda bagi masyarakat kota Surabaya. 

Tak hanya lezat, Ice Cream Zangrandi adalah tempat ini sudah ada sejak jaman penjajahan alias belum merdeka. Sejarah bangunannya, lebih tua daripada umur bapak saya.

Walau baru saja hujan lebat melanda kota Surabaya di hari Sabtu malam Minggu, tak menyurutkan saya untuk memesan Noodle Ice Cream. Rasanya yang manis vanila, tidak membuat batuk bagi yang ingin mencoba kelezatan rasanya. 

Jika kalian yang sempat membaca postingan ini, jangan lupa mampir jika bertandang ke Surabaya. Juga usahakan membeli oleh-oleh khasnya, yaitu Almond Cheese Crispy. InsyaAllah, dijamin ketagihan lho… :D


TAGS travel turis surabaya


Postingan Terkait

-