Apa Karena Hari Ibu, Tulisan Ini Menjadi Viral di Sosial Media?

14 Dec 2016

Secara pribadi, postingan ini saya dapatkan dari grup chatt WA, dimana tergabung di dalamnya. Tak hanya satu grup, 36 grup juga membagikannya karena bertepatan dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. 

Hingga sekarang, saya belum menemukan postingan aslinya karena banyak yang membagikannya. Alih-alih untuk update blog, saya menuliskan ulang dengan maksud sebagai pengingat pribadi.

Berikut ini kisahnya :

Pilih Aku atau Ibumu?

Pagi-pagi sekali, Sarah mengetuk pintu rumah ibunya. Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya. Dari matanya yang sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Sarah pasti habis bertengkar lagi dengan suaminya.

Meski heran, karena biasanya Sarah hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan suaminya. Ayahnya yang juga keheranan, segera menghampiri Sarah dan menanyakan masalahnya.

Sarah mulai menceritakan awal pertengkarannya dengan suaminya tadi malam. Ia kecewa karena suaminya telah membohonginya selama ini.

Sarah menemukan buku rekening suaminya terjatuh didalam mobil. Ia baru tahu, kalau suaminya selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama. Sementara uang yang diterimanya pun sejumlah uang yang sama.

Berarti sudah 1 tahun lebih, suaminya membagi uangnya. Setengah untuk Sarah, setengah untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain?

Ayah Sarah hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah.

“Sarah, yang pertama, langkahmu datang ke rumah ayah sudah ‘Dilaknat Allah dan para MalaikatNya’, karena meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu”

Kalimat ayah sontak membuat Sarah kebingungan. Ia mengira akan mendapat dukungan dari ayahnya.

“Yang kedua, mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya. Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu. Itu pun untuk kebutuhan rumah tangga. Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh”, lanjut ayahnya. 

“Sarah, suamimu menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita. Suamimu tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama. Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan suamimu, maka hanya kamulah wanita yang memilikinya”.

“Suamimu meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu. Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal watakmu” kata ayah Sarah yang mulai berkaca-kaca.

“Sarah, kamu harus tahu, setelah kamu menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu. Jika suamimu ridho padamu, maka Allah pun ridho. Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya. Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya. Jangan sampai kamu menjadi penghalang bakti suamimu kepada ibunya!”

“Suamimu, dan harta suamimu adalah milik ibunya”, kata ayah Sarah dengan tangis terisak. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya.

“Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan:”

  • Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa hingga anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja.
  • Kemudian anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya.
  • Bekerja untuk keluarga barunya.
  • Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya.
  • Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. sebulan sekali, atau bahkan hanya1 tahun sekali.

“Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu. Kenapa? Karena rumahnya kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur disana. Anak-anakmu pun tidak akan betah disana.”

“Sarah, mendengar ini ayah sakit sekali. Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana. Bagaimana dengan ibu mertuamu yang dibiarkan saja untuk tinggal disana?”

“Uang itu diberikan untuk ibunya. Suamimu ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan. Dari uang itu, ibu suamimu hanya memakainya secukupnya saja. Selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu di kampungnya. Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji di kampung itu” lanjut ayah Sarah.

Sarah membatin dalam hatinya, uang yang diberikan suaminya sering dikeluhkannya kurang. Ia butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anak sekolah. Ia juga sangat menjaga penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di spa.

Berjalan-jalan setiap minggu di mall dan berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran. Sarah menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang berprofesi tukang gorengan.

Tukang gorengan yang berhasil :

  • Menjadikan suaminya seorang sarjana, dan mendapatkan pekerjaan yang di idam-idamkan banyak orang.
  • Berhasil mandiri, hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa ia gunakan setiap hari.

“Ayah, maafkan Sarah!”, tangis Sarah meledak.

Ibunda Sarah yang sejak tadi duduk di samping segera memeluknya.

“Sarah, kembalilah ke rumah suamimu. Ia orang baik, nak. Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya. Bantu suamimu menggapai surganya, dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga”, bisik ibunda kepada Sarah.

Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya. Bathinnya sakit, menyesali sikapnya. Namun ia berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya.

Subhanallah!


TAGS umum


Postingan Terkait

-