Haruskah Latah Karena Beras?

25 Jul 2017

Sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan harganya sebab emak saya kebetulan penjual beras. Mulai dari paling murah, hingga paling mahal.

Usai menikah, saya kurang update dengan harga per kilogramnya. Semuanya sudah diatur oleh istri, beras mana yang cocok dijadikan nasi buat makan kami sehari-hari.

Jika ditanya harga beras di pasaran, maaf saya menyerah untuk jawaban itu. Bukan saya tak peduli, tapi saya percaya kinerja istri dalam mengelola kebutuhan sehari-hari.

Tiba-tiba medsos mulai meramaikan berita tentang beras. Mulai dari harga, kualitas hingga latar belakang daripada penjualan beras tersebut.

Awalnya saya tidak tahu harganya, sekarang jadi tahu nominal per kilogramnya. Dulunya tak pernah tahu merk brandnya, sekarang jadi tahu jika brand si A begini, brand si B begitu dan brand si C aduhai.

Bahkan teman saya yang dulunya tak tahu harga beras, ikutan promosi bahwa beras murah itu milik brand ini. Sampai-sampai, upload foto karung beras sebagai keterangan dari status terbarunya.

Saya salut dengan kegigihan opininya yang terkait dengan beras. Beda banget ketika emak saya menjual beras kepada calon pembelinya. Walau sudah menawarkan harga murah, kadang tak mendapatkan pembeli dalam waktu tiga hari.

Honestly, saya sampai bertanya dalam hati, apakah mereka juga berjualan beras? Jika iya, per kilogramnya berapa? Nanti kasih tahu kepada istri saya, biar dia yang mengelolanya.

Kok gak langsung aja? Kan tinggal beli?

Hm.. Saya tak ingin menodai kepercayaan yang sudah saya berikan kepada istri dalam hal pengelolaan. Lagipula, ada pekerjaan lebih utama yang harus saya selesaikan daripada mengurusi harga beras.

Ini untuk mendukung petani Indonesia, bro!

Sudah pernah menjadi petani? Saya memang belum pernah dan oleh karena itu, hasil buminya selalu kami beli. Sebab, harganya jauh lebih murah daripada di pasar. Jadinya, kami tak pernah menjualnya lagi melainkan untuk dikonsumsi sendiri.

Sampai sekarang saya masih ingat, pernah membeli sekarung beras (kurleb 50 kg) beras dari petani. Langsung dipuja-puja bak dewa karena berhasil menolong kehidupan (finansial) mereka. Bahkan, dapat bonus berupa sayur-mayur dari ladang mereka dan motor saya dicuci bersih menggunakan shampo wangi.

Alhamdulillah, saya berusaha tidak latah dengan issue yang ada di dunia media sosial. Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan kawan yang ada di ujung sana, yang sedang memperhatikan akun sosial media saya.

Ingat! Jangan ngambek ya bro.. Saya memang bukan teman baik untuk urusan politik. Saya lebih suka membicarakan kesenangan, kegembiraan, kebahagiaan dan lebih banyak tentang diri saya. Sebab, ini adalah akun media sosial yang paling pribadi tapi bisa dilihat oleh orang banyak.

Selebihnya, saya cukup membaca di Fokus Berita ‘Gudang Beras Digrebek’ di www.detik.com

-fys-


TAGS opini beras


Postingan Terkait

-