Ingin selalu tampil parlente laksana Mr. Perfect atau tampil anggun bak Miss Universe di setiap kesempatan? Hati-hati, jika perilaku anda terlalu jaim, bisa-bisa akan mengundang tatapan aneh dari orang di sekeliling anda.
Mungkin anda sering melihat di sekeliling, banyak orang jaga image alias jaim. Lallu, darimana datangnya sikap jaim ini? Maaf sebelumnya, bukan bermaksud menggurui soal teori sosial. Manusia adalah makhluk sosial yang harus hidup bersama dengan manusia lainnya. Dalam kehidupan, ada pembagian peran untuk semua orang. Biasanya, hal ini berdasarkan strata sosial, jenis kelamin dan sebagainya.
Setiap peran menuntut pemerannya untuk menampilkan serangkaian perilaku tertentu. Hal ini dipertahankan, disosialisasikan dan akhirnya diturunkan ke generasi berikutnya. Seiring dengan perkembangan jaman, peran strata sosial yang tinggi, seringkali mendapat tempat di masyarakat. Tak heran, banyak orang yang sengaja melakukan beragam cara untuk mengatrol strata sosialnya. Misalnya, dengan mengubah tingkah laku sedemikian rupa, serta tampil dengan perangkat perilaku yang dianggap sesuai dengan peran tinggi. Mereka menganggap, ini bisa membuat mereka memenuhi kriteria sebagai anggota kelas tertentu.
Secara budaya Indonesia, wanita diharapkan menjadi manusia yang kalem, tenang, anggun dan mampu menjaga segala macam perilaku negatif. Sebagian wanita yang menyerap nilai-nilai sosial itu berusaha terus memegang teguh prinsip tersebut. Meskipun diantara nilai-nilai tersebut ada yang tidak pas dengan dirinya, ia akan tetap ngotot untuk mewujudkannya. Kata temen yang mendalami ilmu psikologi, wanita yang seperti itu disebut hipersosial.
Kaum hipersosial biasanya terlalu kuat memegang dan menjalankan tuntutan sosial. Ia pun mengabaikan kepentingan dan preferensi pribadi, kalau kelewatan, ia malah menampilkan kepribadian palsu. Kebutuhan utama kaum hipersosial adalah inclusion (ingin masuk dan dianggap sebagai bagian kelompok tertentu).
Demi terlihat anggun dan berisi, seseorang akan melakukan perubahan apa saja pada dirinya. Caranya, dengan menjaga segala macam perilaku di depan umum. Setelah itu apa yang terjadi? Apakah orang itu berusaha mengubah kepribadiannya?
Sebetulnya yang tengah berubah saat itu bukanlah kepribadiannya, melainkan bagian-bagian tertentu dari kepribadiannya. Tak heran, jika perubahan besar-besaran tersebut (misalnya penampilan atau tingkah laku) tak sesuai dengan kepribadiannya, maka akan timbul konflik batin dalam diri si pelaku. Soalnya, orang tersebut akan merasa tak nyaman dengan kondisi yang dipaksakan seperti itu.
Anda ingin melakukan perubahan? Ada baiknya harus tanggap dengan kondisi yang terjadi. Kalau memang merasa tak nyaman dengan diri sendiri, jangan ragu untuk segera introspeksi. Sadarkan diri anda saat terjadi sesuatu yang salah atau berlebihan. Berlakulah dengan normal, tanpa dibuat-buat, sehingga anda akan merasa nyaman. Menjaga perilaku memang penting, namun harus disesuaikan dengan kesempatan dan lingkungan sekitarnya.
Yang penting, jalankan saja peran kita masing-masing dengan baik, dan jangan dipukul rata. Karena yang mengatur dan menghubungkan peran-peran itu adalah kepribadian asli kita masing-masing. Mengapa begitu? Ada beberapa orang yang berusaha menjaga penampilannya sebaik mungkin di depan publik, karena dituntut profesi dan tentu saja dibayar.
Ingat, bukan hanya saia atau anda yang menjalani peran ganda dalam kehidupan ini. Pada dasarnya, peran sosial manusia memang lebih dari satu. Misalnya saia sendiri, dikantor berperan sebagai karyawan namun dirumah saia akan berperan sebagai suami dan menantu yang baik di mata keluarga. Di lingkungan tempat tinggal saia berperan sebagai mak’mum namun di lingkungan internet saia berperan sebagai binatang yang berbau.
Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura puraMengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwaraPeran yang kocak bikin kita terbahak bahak
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupanMengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwaraDunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupanMengapa kita bersandiwara




beruntunglah karena saya bukan tipe orang yang suka jaga image..
lebih suka jaga gawang
#eh
Semestinya para pejabat eselon di kantor birokrasi pemerintah RI baca masalah ini..?!!
itu jangan minum aja ya.. bolanya lari tuh… #eaaa
gitu ya? melamar jadi pejabat eselon aja ah…
boleh sih… tapi jangan kebablasan..ntar jadi sombong
Apa Kang Jaim ? he….x9 no coment deh.
Sukses selalu
Salam
Ejawantah’s Blog
terlalau jaim jangan,yang sedang2 saja
karena kang yang namanya jaim itu perlu juga
hehehe